Kamis, 16 September 2010

Kod.1795 I, hlm 228-229 (Sinom, Kangjeng Susuhunan Giri)

16. Sejatine wong anembah iku yayi Wandan Kuning, kadiya angganing baita amoh uyah iku nini. Kang kinarya parlambi alayar tengah ing laut baitane kawratan, kerem tengah ing jeladri,ulihena uyah iku mring segari.

17. Malar reke kang baita, antuk isi ning jeladri mengkana reke panembah, kang nyata ing Suksma Jati pesti, dadi sembah pujinipun mangkana kang tan wikan dereng wruh Hingkang Sejati. Panembahe anembah ing tawang-tuwang

Terejemahan:

16.  Manusia yang melakukan sesembahan sejati seumpama sebuah kapal yang bermuatan garam. Ini adalah sebuah perlambang. Dalam pelayaran di tengah laut, muatanya menjadi semakin berat dan akhirnya kapalnya tenggelam di tengah lautan. Kembalikanlah garam ke lautan.

17.  Lalu lautanlah yang menjadi muatannya. Demikian juga penyembahan orang yang mengenal Hyang Suksma Sejati. Sungguh setiap perbuatannya menjadi sembah dan pujian. Berbeda dengan penyembahan seseorang yang belum mengenal kebenaran mengenai hal itu. Penyembahannya  kosong belaka, tanpa tujuan yang jelas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar